Categories

Rabu, 14 Desember 2011

Pesantren Husnul Khotimah; Masuk Sulit Diterima Lebih Sulit

Masuk sulit, kalau diterima lebih sulit lagi. Demikian keluhan anak-anak lulusan sekolah dasar (SD) yang mendaftar masuk ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah (PP HK), di Desa Maniskidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Maksudnya, masuk menjadi santri di PP HK termasuk sulit, karena harus menjalani tes seleksi yang relatif ketat. Dari sekitar 1.500 calon santri dari berbagai provinsi di Indonesia, bahkan sebagian dari Malaysia dan Brunei Darussalam yang mengikuti ujian seleksi (note: dari Bogor juga ada ^_^), hanya 250 orang santri yang diterima. Dengan demikian, setiap seorang calon santri harus "menyingkirkan" enam orang calon santri saingannya. Hanya siswa yang di kelasnya berata-rata masuk peringkat 5 besar yang biasanya lolos seleksi.
PONDOK Pesantren Husnul Khotimah, di kaki Gunung Ciremai, Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan. Menjadi santri di tempat ini memungkinkan santri belajar lebih optimal karena para santri biasanya dijauhkan dari berbagai hal yang mengganggu belajar.

Senin, 12 Desember 2011

Sepotong Kenangan Silam Husnul Khotimah

Saya masih ingat awal tahun 1994, masa menginjakkan kaki pertama di pesantren Husnul khotimah. Teduh dan sepi. Hanya terdapat beberapa bangunan asrama, kelas dan sebuah masjid megah bernama Al-Husna. Meski memang hingga sekarang pun tidak ada plang sama sekali yang menyebut jika masjid itu bernama Al-Husna. Belum ada bangunan bertingkat tiga di seberang masjid tersebut, hanya belukar dan rumput liar. Asrama-asrama begitu putih bersih dan rapi, seperti bangunan baru. Ah, saya langsung jatuh cinta saat itu. That is what I want. Seolah kita dipersilahkan masuk dengan hangat. Pantas saja saat itu koran nasional Republika menjuluki pesantren yang terletak di kaki gunung Ciremai ini sebagai pesantren terbersih.

Tidak ada orientasi penerimaan santri baru, hanya kehangatan kakak kelas dan keramahan para ustadz. Tidak ada walisantri mengantar dengan kendaraan mewah, hanya mobil angkutan umum sewaan. Santri-santrinya pun berasal dari golongan menegah ke bawah alis kere, hanya beberapa saja yang berpunya. Lihat saja baju-bajunya yang sederhana dan bersahaja. Jika shalat berjamaah dilaksanakan tidak ada shaf tumpah hingga ke luar, hanya tujuh shaf berbaris rapi. Tidak lebih. Kecuali saat-saat ada pengajian akbar, shaf belakang di isi oleh santriwati. Jika malam menjelang, pukul sembilan sangat sunyi senyap. Seolah tidak ada kehidupan. Saat itu pesantren terasa lapang dan luas.

Tokoh Politik atau Tokoh Masyarakat?

Di era demam politik saat ini, kekuasaan nampak sangat mengiurkan. Dimana-mana pilkada, pilgub, hingga pilkades. Jika di akumulasi, bisa terjadi pemilihan ketua daerah setiap bulan di Indonesia. Jadi wajar tahun-tahun ini dinamakan era politik. Di televisi tema-tema politik jadi tema utama. Bahkan kerusuhan pun bisa dikaitkan dengan politik.

Beragam tokoh pun bermunculan. Wajahnya menghiasi televisi, poster-poster besar, disudut-sudut jalan, di spanduk. Mulai dari pasar hingga gang sempit dijejali foto para kandidat. Siapakah mereka? entah darimana munculnya? dari kolong langit apa balik saku? ajaib sim salabim. Lebih ajaib lagi ada perusahaan penelitian berani membisniskan pengerekan popularitas, dijamin dalam waktu sekian minggu bisa populer!

Antara Makkah dan Indonesia, Sebuah Hikayat Negeri Antah Berantah

Seorang kakek bercerita pada cucunya tentang 2 buah negeri yang bertolak belakang dalam segala hal, aneh tapi benar-benar nyata, kakek pun mulai bercerita :

Cucuku, dulu ada negeri bernama Makkah, negeri itu amatlah gersang, di negeri itu sumber air tidaklah banyak. Hanyalah sebuah sumur kecil yang disebut Zam zam tapi sumur itu begitu berkahnya telah memberi minum bermilyar-milyar manusia setiap harinya, bukan hanya penduduk Makkah tapi juga dunia.