Categories

Senin, 12 Desember 2011

Tokoh Politik atau Tokoh Masyarakat?

Di era demam politik saat ini, kekuasaan nampak sangat mengiurkan. Dimana-mana pilkada, pilgub, hingga pilkades. Jika di akumulasi, bisa terjadi pemilihan ketua daerah setiap bulan di Indonesia. Jadi wajar tahun-tahun ini dinamakan era politik. Di televisi tema-tema politik jadi tema utama. Bahkan kerusuhan pun bisa dikaitkan dengan politik.

Beragam tokoh pun bermunculan. Wajahnya menghiasi televisi, poster-poster besar, disudut-sudut jalan, di spanduk. Mulai dari pasar hingga gang sempit dijejali foto para kandidat. Siapakah mereka? entah darimana munculnya? dari kolong langit apa balik saku? ajaib sim salabim. Lebih ajaib lagi ada perusahaan penelitian berani membisniskan pengerekan popularitas, dijamin dalam waktu sekian minggu bisa populer!


Didunia politik semuanya memungkinkan, diotak atik hingga terbalik. Seseorang berkocek tebal pun bisa menjadi pemimpin dengan sekejap, Itulah tokoh politik. Dengan dikatrol media yang dibayar, bisa menaikan popularitasnya. Lawan pun bisa dijungkalkan dengan isu-isu murahan. Mulai dari isu selingkuh, suap hingga tahlil. 

Berbeda dengan tokoh masyarakat. Besar di masyarakat, tumbuh dan berkembang tanpa manipulasi. Masyarakat pun tahu tindak tanduknya. Riwayat hidupnya, kejujurannya, kesantunnya. Wajahnya sudah mendarah daging dalam urat nadi kehidupan masyarakat. Tanpa diiklankan sekalipun, tanpa publikasi, masyarakat tahu dia adalah seorang tokoh yang dihormati. Tokoh ini cenderung tanpa ambisi.

Jika diajukan siapa orangnya, pasti Nabi Muhammad saw salah satunya. Jujur, terpercaya. Hingga setiap katanya adalah untaian kejujuran. "Seandainya saya katakan bahwa di balik bukit ini ada musuh yang hendak menyerang kita apakah kalian percaya?" karena kejujurannya selama ini, maka serta merta masyarakat Quraiys menjawab "ya, kami percaya". Integritasnya terbangun secara natural, alami tidak direkayasa.

Sudah saatnya kita mengevalusi. Tokoh masyarakatkan yang akan kita bangun atau penokohan politik? tokoh yang mengakar di masyarakat atau tokoh yang terpampang di spanduk? Umur tokoh politik hanya sepanjang kampanye, tokoh masyarakat abadi dihati masyarakat. Bangsa ini tak akan maju jika pada diri sendiri saja tidak jujur.


Muhammad Ishman AM
Presiden ISLAH Pusat 2010-2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar